Pages

RSS

Rabu, 11 September 2013

Peradaban Lintas Agama dan Budaya, Kebhinekaan, Etnisitas, Gaya Hidup, dan Solidaritas Sosial Terbuka




STUDY EXCURSIE
Tema : Peradaban Lintas Agama dan Budaya, Kebhinekaan, Etnisitas, Gaya Hidup, dan Solidaritas Sosial Terbuka.

Perbedaan Merupakan Pemersatu Paling Indah


Oleh :
Roisatu Hikmatul A’la
051211131061



FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2012




JUDUL :
            Perbedaan Merupakan Pemersatu Paling Indah
PENGANTAR :
            Masyarakat Indonesia terdiri dari bermacam-macam ras, agama, suku bangsa dan budaya. Sehingga disebut negara bhinneka. Sehingga keberagaman merupakan aspek yang memperindah peradaban bangsa Indonesia. Itulah sebabnya Indonesia memiliki Pancasila  untuk menjadi landasan bernegara dan bermasyarakat.
Namun kebhinekaan tidak hanya cukup diketahui dan dipahami. Masyarakat Indonesia yang berbhineka membutuhkan seperangkat pemahaman agar tidak berhenti pada pengetahuan masyarakat tentang perbedaan tersebut, melainkan perlu adanya kesadaran bahwa kita bangsa Indonesia memang berbeda-beda. Oleh karena itu, masyarakat harus diberi kesadaran bahwa kita memang berbeda, sehingga akan menghormati dan menghargai perbedaan itu untuk membangun kebersamaan.  
            Realita di negara kita sekarang adalah menjadikan perbedaan itu menjadi bergejolak dimana-mana. Namun bukan berarti tidak ada daerah yang sangat memahami dan melaksanakan kaidah-kaidah Pancasila sebagai landasan negara dengan baik. Contohnya desa Balun di kabupaten Lamongan. Desa ini merupakan desa multi agama dan disebut juga desa Pancasila. Selain itu terdapat pondok pesantren yang didalamnya solidaritas nyata terbentuk dengan sangat baik. Oleh karena itu, study excursi kali ini kami memilih Lamongan sebagai tempat kunjungan. Guna untuk proses penyadaran atas kesadaran kebhinnekaan dengan melihat dan memahami realitas keberagaman dan kebhinnekaan tersebut. Karena proses belajar bukan hanya sekedar kemampuan untuk mencerdaskan akal budi, melainkan spiritual bagi para peserta pembelajaran.
KONSEP POKOK :
            Penulisan essay ini memilki dasar-dasar bahwa Perbedaan yang ada di Indonesia merupakan aset penting dalam mempersatukan masyarakat Indonesia. Perbedaan-perbedaan tersebut dikupas secara detail dalam perjalanan kami selama dua hari dalam rangka study excursie di Lamongan. Dengan adanya beberapa narasumber, kami para peserta berdialog dan berdiskusi tentang peradaban lintas agama dan budaya, kebhinekaan, etnisitas, gaya hidup, dan solidaritas sosial terbuka yang berkembang di kalangan masyarakat Lamongan.
            Pengetahuan tentang bagaimana perbedaan justru dijadikan pemersatu yang efektif dan indah adalah sangat penting untuk diketahui oleh semua warga negara Indonesia termasuk mahasiswa. Oleh karena itu, tema dalam study excursie kali ini sudah sangat sesuai dengan realita permasalahan mendasar yang justru menimbulkan gejolak di masyarakat. Sehingga saya akan menguraikan poin penting di atas dalam essay bebas ini dengan tujuan dapat merefleksi kritis dan mendalam yang dapat menggugah semangat kebangsaan bagi masyarakat umumnya dan mahasiswa khususnya.
PEMBAHASAN :
            Dalam perjalanan saya ke Lamongan dalam rangka study excursie, saya bertemu dengan banyak hal baru yang membuat saya semakin tertarik dengan peradaban lintas agama dan budaya di masyarakat serta kebhinekaan, etnisitas dan gaya hidup yang berkembang dalam masyarakat. Saya bertemu dengan bupati Lamongan yang dengan lapang dada menerima kami sang peserta study excursie untuk meneliti dan memahami realitas kehidupan kabupaten Lamongan yang dikenal dengan latar kebudayaan Pesisir utara Pulau Jawa, yang merupakan asal muasal dinamika kehidupan bhineka yang dimotori oleh para wali yang menyerukan keagungan ajaran Tuhan (Islam).
            Kami disambut langsung oleh Bpk Bupati Lamongan, Bapak Fadeli, SH di kantor Bupati Lamongan “Sabdha Dhaksa Adiyaksa” dengan hangat. Sebagai narasumber, beliau menjelaskan tentang potensi-potensi ekonomi yang dapat menambah devisa negara melalui lapangan-lapangan kerja dan profesi para masyarakat lamongan.
            Saya sangat terkesan ketika sampai di desa Balun, kabupaten Lamongan. Tidak heran jika desa ini disebut desa Pancasila. Bagaimana tidak? Masjid, gereja dan pura terdapat dalam satu kompleks. Masjid dengan gereja hanya dibatasi lapangan saja dan masjid dengan pura hanya berjarak kurang dari 50 meter. Kebiasaan saling hormat-menghormati antar agama sangat baik dan terjaga. Seperti yang dikatakan oleh tiga tokoh pemuka agama di desa tersebut. Tokoh pemuka Islam, Bpk Sumitro mengatakan bahwa toleransi antar agama di desa Balun sangat tinggi. Budaya  selamatan  juga  masih  banyak  dilakukan  oleh  masyarakat Balun.  Biasanya  selamatan  menyambut  bulan  Romadhon  dan  selamatan  sebelum  hari  raya  umat  Islam.  Bagi  yang  bukan  agama  Islam  juga  ikut  mengadakan  selamatan,  hal  ini  lebih  dimaksudkan atau  dimaknai  sebagai  tindakan  sosial  dari  pada  tindakan  religius sebab mereka bukan umat Islam. Mereka memaknai bahwa selamatan tersebut bertujuan untuk merekatkan hubungan antar tetangga. Bagi  mereka  memenuhi  undangan  adalah sesuatu  yang  penting  karena  disitu  terdapat  kontrol  sosial  yang  ketat.  Bagi  mereka  yang  tidak  datang harus pamitan sebelum atau sesudahnya.
            Tokoh pemuka agama Hindu, Bpk Adi mengatakan bahwa toleransi antar agama tersebut sangat terlihat pada saat nyepi. Ketika nyepi, adzan solat (Islam) yang biasanya memakai speaker, tidak dilakukan dengan memakai speaker. Juga ketika hari nyepi itu bertepatan dengan hari Jum’at, dan bagi agama Islam juga harus melaksanakan solat jum’at. Untuk menghormati agama Hindu, khotbah solat Jum’at tidak memakai speaker. Selain itu lampu yang berada di dekat pura dimatikan.
            Tokoh yang ketiga yaitu tokoh pemuka agama Kristen, Bpk Sutrisno mengatakan bahwa ketika ada gendhuri / gendhuren (budaya selamatan di desa-desa ketika mempunyai hajat atau karena adanya kematian) atau pesta pernikahan semua warga di undang, baik itu yang beragama Kristen maupun Islam serta Hindu. Dalam acara bersama tersebut, perbedaan agama sangat tidak terlihat. Ketika datang ke hajatan untuk  menyumbang  atau  membantu, para perempuan banyak  yang  memakai  kerudung  (bukan  jilbab)  dan bapak-bapak  banyak  yang  memakai  songkok  atau  kopyah,  padahal agama mereka belum tentu Islam sebagaimana pada masyarakat yang lain. Hal ini berarti kerudung dan kopyah lebih berarti sebagai simbol budaya  yang  diinterpretasikan  menghormati  pesta  hajatan. Kata beliau, sebenarnya perbedaan-perbedaan yang sangat prinsip itu ada, tapi perbedaan-perbedaan tersebut bukan untuk dipertentangkan. Melainkan dapat diterima dengan baik, namun tidak melaksanakan prinsip tersebut. Contohnya agama Islam tidak akan mengerjakan ibadahnya agama Hindu dan Kristen. Begitupun sebaliknya.
            Perbedaan agama terjadi bukan hanya  pada  antar  keluarga  tetapi  terjadi  pula  dalam  keluarga  itu sendiri, sehingga dalam setiap acara salah satu agama pasti melibatkan aggota  keluarga  yang  berbeda  agama.  Baik  bantuan  berupa  tenaga maupun  biaya  upacara  keagamaan  yang  akan  berlangsung.  Misal, dalam  acara  tahlilan  anak  yang  beragama  Kristen  ikut  membantu orang  tuanya  dalam  acara  tahlilan  tersebut.  Bahkan  dalam  satu  atap terdiri dari tiga agamapun sudah tidak heran lagi.
            Mereka juga punya kebiasaan lain dalam penerapan kehidupan multi agama ini. Kebiasaan mereka yaitu penyambutan bulan Agustus yang dimeriahkan dengan pentas seni. Dalam pentas seni ini ada kolaborasi dari tri-agama, dimana Islam dengan seni bermain terbang, kristen dengan band, dan hindu dengan gamelannya.
            Tempat terakhir yang saya kunjungi adalah pondok pesantren dengan sebutan “Pondok Pesantren Entrepreneur”. Pondok pesantren ini berada di Jl Raden Qosim No 86 Banjaranyar Paciran Lamongan Jawa Timur. Pondok Pesantren Entrepreneur mempunyai nama asli Pondok Pesantren Sunan Derajat. Mengapa disebut Ponpes Entrepreneur? Karena ponpes ini telah mempunyai 21 bidang usaha yang dikembangkan sampai saat ini. Pondok  pesantren  ini  menyelenggarakan  banyak  pemberdayaan  bagi para  santrinya.  Konon,  pesantren  itu  dirintis  oleh  salah  satu  tokoh Wali  Sembilan,  yakni  Raden  Qosim  atau  yang  lebih  dikenal  dengan sebutan  Sunan  Drajat.  Dalam  perjalanannya,  pesantren  itu  sempat vakum.  Baru  pada  generasi  ke-14,  atau  sekitar  1977,  eksistensi pesantren  ini  berlanjut  dan  secara  resmi  didirikan  kembali  oleh  KH Abdul Ghofur.  
            Sungguh kagum saya dengan kehidupan yang ada di ponpes sunan derajat ini, dimana solidaritas sosialnya terbentuk dengan sangat baik karena sistem didik yang ada di ponpes ini. Kegiatan sehari-hari yang sangat padat tidak membuat mereka para santri tidak mengenal lingkungan. Justru dengan waktu yang terbatas, mereka dapat membagi waktu dengan baik dan melakukan interaksi sosial dengan sangat baik, baik itu kepada sesama santri maupun lingkungan sosial perekonomian dan masyarakat sekitar. Sehingga tercapai solidaritas sosial yang baik.
            Hasil wawancara saya dengan beberapa santri menjelaskan bahwa Pondok Pesantren Sunan Derajat yang memilki 9000 santri ini jelas terdapat perbedaan pada culture yang merupakan contoh kebhinekaan, etnisitas dan gaya hidup yang berbeda-beda diantara para santri. Pada awal tahun masuk pertama, perbedaan tersebut masih terlihat. Namun dengan berjalannya waktu perbedaan kebiasaan dan budaya dari masing-masing individu justru menjadi pemersatu dan warna yang indah dalam mewarnai kehidupan mereka di ponpes tersebut. Karena dengan sendirinya setiap individu akan beradaptasi dengan lingkungan. Sehingga solidaritas antar santri terbentuk dengan sangat baik melalui proses yang berbeda-beda pada setiap santri.
            Beberapa pertanyaan yang saya lontarkan kepada mereka, semua terjawab dengan jawaban yang sangat memuaskan bagi saya. Mereka mengatakan bahwa dengan mondok di ponpes Sunan Derajat ini, mereka mendapat banyak sekali manfaat yang tidak pernah mereka pikirkan akan mereka dapat di dalam suatu pondok pesantren. Selain mendapat ilmu agama dan pengamalannnya atau penerapannya, mereka mendapat pengalaman berekonomi dan bermasyarakat dengan sangat baik. Dengan mondok di ponpes tersebut mereka dapat belajar bertoleransi dengan masyarakat melalui berbagai macam acara pondok dan melalui interaksi usaha-usaha perekonomian. Disinilah solidaritas sosial terbuka terbentuk.
            Dengan realita hasil study excursie saya yang seperti itu, saya terheran-heran dan bertanya-tanya. Bagaimana bisa negara Indonesia masih memiliki banyak problem terkait dengan perbedaan agama, kebhinekaan, etnisitas, gaya hidup dan solidaritas sosial terbuka yang ada di masyarakat Indonesia?. Mudah sebenarnya. Dengan meniru kebiasaan baik di desa Balun (desa Pancasila) serta Pondok Pesantren Sunan Derajat (Pondok Pesantren Entrepreneur), maka semua masalah terkait hal tersebut akan terselesaikan dengan baik. Namun, perlu kita sadari juga bahwa sifat dan watak setiap masyarakat di daerah satu dengan yang lain juga tidak sama. Tetapi dengan mengambil aspek positif dari desa Balun dan Pondok Pesantren Sunan Derajat tersebut dan diterapkan pada setiap daerah tetapi pastinya dengan metode yang berbeda yang sesuai dengan karakter daerah masing-masing, maka akan tercapai tujuan negara Indonesia yang berPancasila dan berekonomi maju.
SIMPULAN DAN SARAN :
            Kesimpulan yang dapat saya ambil dari hasil study excursie selama dua hari adalah bahwa perlunya kesadaran pada diri masing-masing individu dalam masyarakat Indonesia bahwa Indonesia adalah negara Pancasila dan bhineka. Sehingga sudah seharusnya pada diri setiap individu masyarakat menjadikan perbedaan-perbedaan menjadi sebuah pemersatu bangsa yang efektif dan indah. Seperti semboyan bangsa Indonesia “Bhineka Tunggal Ika”, berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
DAFTAR PUSTAKA :
            Adib,Mohammad,2012. Dialog Peradaban Lintas Agama Dan Budaya :  Kebhinekaan, Etnisitas, Gaya Hidup, Dan Solidaritas Sosial Terbuka.  Surabaya.