STUDY EXCURSIE
Tema : Peradaban
Lintas Agama dan Budaya, Kebhinekaan, Etnisitas, Gaya Hidup, dan Solidaritas
Sosial Terbuka.
Perbedaan
Merupakan Pemersatu Paling Indah
Oleh :
Roisatu Hikmatul A’la
051211131061
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2012
JUDUL :
Perbedaan
Merupakan Pemersatu Paling Indah
PENGANTAR :
Masyarakat
Indonesia terdiri dari bermacam-macam ras, agama, suku bangsa dan budaya.
Sehingga disebut negara bhinneka. Sehingga keberagaman merupakan aspek yang
memperindah peradaban bangsa Indonesia. Itulah sebabnya Indonesia memiliki
Pancasila untuk menjadi landasan
bernegara dan bermasyarakat.
Namun kebhinekaan tidak hanya cukup
diketahui dan dipahami. Masyarakat Indonesia yang berbhineka membutuhkan
seperangkat pemahaman agar tidak berhenti pada pengetahuan masyarakat tentang
perbedaan tersebut, melainkan perlu adanya kesadaran bahwa kita bangsa
Indonesia memang berbeda-beda. Oleh karena itu, masyarakat harus diberi
kesadaran bahwa kita memang berbeda, sehingga akan menghormati dan menghargai
perbedaan itu untuk membangun kebersamaan.
Realita
di negara kita sekarang adalah menjadikan perbedaan itu menjadi bergejolak
dimana-mana. Namun bukan berarti tidak ada daerah yang sangat memahami dan
melaksanakan kaidah-kaidah Pancasila sebagai landasan negara dengan baik.
Contohnya desa Balun di kabupaten Lamongan. Desa ini merupakan desa multi agama
dan disebut juga desa Pancasila. Selain itu terdapat pondok pesantren yang
didalamnya solidaritas nyata terbentuk dengan sangat baik. Oleh karena itu, study
excursi kali ini kami memilih Lamongan sebagai tempat kunjungan. Guna untuk
proses penyadaran atas kesadaran kebhinnekaan dengan melihat dan memahami
realitas keberagaman dan kebhinnekaan tersebut. Karena proses belajar bukan
hanya sekedar kemampuan untuk mencerdaskan akal budi, melainkan spiritual bagi
para peserta pembelajaran.
KONSEP POKOK :
Penulisan essay ini memilki dasar-dasar bahwa Perbedaan yang ada di
Indonesia merupakan aset penting dalam mempersatukan masyarakat Indonesia. Perbedaan-perbedaan
tersebut dikupas secara detail dalam perjalanan kami selama dua hari dalam
rangka study excursie di Lamongan. Dengan adanya beberapa narasumber,
kami para peserta berdialog dan berdiskusi tentang peradaban lintas agama dan
budaya, kebhinekaan, etnisitas, gaya hidup, dan solidaritas sosial terbuka yang
berkembang di kalangan masyarakat Lamongan.
Pengetahuan
tentang bagaimana perbedaan justru dijadikan pemersatu yang efektif dan indah
adalah sangat penting untuk diketahui oleh semua warga negara Indonesia
termasuk mahasiswa. Oleh karena itu, tema dalam study excursie kali ini
sudah sangat sesuai dengan realita permasalahan mendasar yang justru menimbulkan
gejolak di masyarakat. Sehingga saya akan menguraikan poin penting di atas
dalam essay bebas ini dengan tujuan dapat merefleksi kritis dan mendalam yang
dapat menggugah semangat kebangsaan bagi masyarakat umumnya dan mahasiswa
khususnya.
PEMBAHASAN :
Dalam
perjalanan saya ke Lamongan dalam rangka study excursie, saya bertemu
dengan banyak hal baru yang membuat saya semakin tertarik dengan peradaban
lintas agama dan budaya di masyarakat serta kebhinekaan, etnisitas dan gaya
hidup yang berkembang dalam masyarakat. Saya bertemu dengan bupati Lamongan
yang dengan lapang dada menerima kami sang peserta study excursie untuk
meneliti dan memahami realitas kehidupan kabupaten Lamongan yang dikenal dengan
latar kebudayaan Pesisir utara Pulau Jawa, yang merupakan asal muasal dinamika
kehidupan bhineka yang dimotori oleh para wali yang menyerukan keagungan ajaran
Tuhan (Islam).
Kami
disambut langsung oleh Bpk Bupati Lamongan, Bapak Fadeli, SH di kantor Bupati
Lamongan “Sabdha Dhaksa Adiyaksa” dengan hangat. Sebagai narasumber, beliau
menjelaskan tentang potensi-potensi ekonomi yang dapat menambah devisa negara
melalui lapangan-lapangan kerja dan profesi para masyarakat lamongan.
Saya
sangat terkesan ketika sampai di desa Balun, kabupaten Lamongan. Tidak heran
jika desa ini disebut desa Pancasila. Bagaimana tidak? Masjid, gereja dan pura
terdapat dalam satu kompleks. Masjid dengan gereja hanya dibatasi lapangan saja
dan masjid dengan pura hanya berjarak kurang dari 50 meter. Kebiasaan saling
hormat-menghormati antar agama sangat baik dan terjaga. Seperti yang dikatakan
oleh tiga tokoh pemuka agama di desa tersebut. Tokoh pemuka Islam, Bpk Sumitro
mengatakan bahwa toleransi antar agama di desa Balun sangat tinggi. Budaya selamatan
juga masih banyak
dilakukan oleh masyarakat Balun. Biasanya
selamatan menyambut bulan
Romadhon dan selamatan
sebelum hari raya
umat Islam. Bagi
yang bukan agama
Islam juga ikut
mengadakan selamatan, hal
ini lebih dimaksudkan atau dimaknai
sebagai tindakan sosial
dari pada tindakan
religius sebab mereka bukan umat Islam. Mereka memaknai bahwa selamatan
tersebut bertujuan untuk merekatkan hubungan antar tetangga. Bagi mereka
memenuhi undangan adalah sesuatu yang
penting karena disitu
terdapat kontrol sosial
yang ketat. Bagi
mereka yang tidak
datang harus pamitan sebelum atau sesudahnya.
Tokoh
pemuka agama Hindu, Bpk Adi mengatakan bahwa toleransi antar agama tersebut
sangat terlihat pada saat nyepi. Ketika nyepi, adzan solat (Islam) yang
biasanya memakai speaker, tidak dilakukan dengan memakai speaker. Juga ketika
hari nyepi itu bertepatan dengan hari Jum’at, dan bagi agama Islam juga harus
melaksanakan solat jum’at. Untuk menghormati agama Hindu, khotbah solat Jum’at
tidak memakai speaker. Selain itu lampu yang berada di dekat pura dimatikan.
Tokoh
yang ketiga yaitu tokoh pemuka agama Kristen, Bpk Sutrisno mengatakan bahwa
ketika ada gendhuri / gendhuren (budaya selamatan di desa-desa
ketika mempunyai hajat atau karena adanya kematian) atau pesta pernikahan semua
warga di undang, baik itu yang beragama Kristen maupun Islam serta Hindu. Dalam
acara bersama tersebut, perbedaan agama sangat tidak terlihat. Ketika datang ke
hajatan untuk menyumbang atau
membantu, para perempuan banyak
yang memakai kerudung
(bukan jilbab) dan bapak-bapak banyak
yang memakai songkok
atau kopyah, padahal agama mereka belum tentu Islam
sebagaimana pada masyarakat yang lain. Hal ini berarti kerudung dan kopyah
lebih berarti sebagai simbol budaya
yang diinterpretasikan menghormati
pesta hajatan. Kata beliau,
sebenarnya perbedaan-perbedaan yang sangat prinsip itu ada, tapi
perbedaan-perbedaan tersebut bukan untuk dipertentangkan. Melainkan dapat
diterima dengan baik, namun tidak melaksanakan prinsip tersebut. Contohnya
agama Islam tidak akan mengerjakan ibadahnya agama Hindu dan Kristen. Begitupun
sebaliknya.
Perbedaan
agama terjadi bukan hanya pada antar
keluarga tetapi terjadi
pula dalam keluarga
itu sendiri, sehingga dalam setiap acara salah satu agama pasti
melibatkan aggota keluarga yang
berbeda agama. Baik
bantuan berupa tenaga maupun
biaya upacara keagamaan
yang akan berlangsung.
Misal, dalam acara tahlilan
anak yang beragama
Kristen ikut membantu orang tuanya
dalam acara tahlilan
tersebut. Bahkan dalam
satu atap terdiri dari tiga
agamapun sudah tidak heran lagi.
Mereka
juga punya kebiasaan lain dalam penerapan kehidupan multi agama ini. Kebiasaan
mereka yaitu penyambutan bulan Agustus yang dimeriahkan dengan pentas seni.
Dalam pentas seni ini ada kolaborasi dari tri-agama, dimana Islam dengan seni
bermain terbang, kristen dengan band, dan hindu dengan gamelannya.
Tempat
terakhir yang saya kunjungi adalah pondok pesantren dengan sebutan “Pondok
Pesantren Entrepreneur”. Pondok pesantren ini berada di Jl Raden Qosim No 86
Banjaranyar Paciran Lamongan Jawa Timur. Pondok Pesantren Entrepreneur
mempunyai nama asli Pondok Pesantren Sunan Derajat. Mengapa disebut Ponpes
Entrepreneur? Karena ponpes ini telah mempunyai 21 bidang usaha yang
dikembangkan sampai saat ini. Pondok
pesantren ini menyelenggarakan banyak
pemberdayaan bagi para santrinya.
Konon, pesantren itu
dirintis oleh salah
satu tokoh Wali Sembilan,
yakni Raden Qosim
atau yang lebih
dikenal dengan sebutan Sunan
Drajat. Dalam perjalanannya, pesantren
itu sempat vakum. Baru
pada generasi ke-14,
atau sekitar 1977,
eksistensi pesantren ini berlanjut
dan secara resmi
didirikan kembali oleh
KH Abdul Ghofur.
Sungguh
kagum saya dengan kehidupan yang ada di ponpes sunan derajat ini, dimana
solidaritas sosialnya terbentuk dengan sangat baik karena sistem didik yang ada
di ponpes ini. Kegiatan sehari-hari yang sangat padat tidak membuat mereka para
santri tidak mengenal lingkungan. Justru dengan waktu yang terbatas, mereka
dapat membagi waktu dengan baik dan melakukan interaksi sosial dengan sangat
baik, baik itu kepada sesama santri maupun lingkungan sosial perekonomian dan
masyarakat sekitar. Sehingga tercapai solidaritas sosial yang baik.
Hasil
wawancara saya dengan beberapa santri menjelaskan bahwa Pondok Pesantren Sunan
Derajat yang memilki 9000 santri ini jelas terdapat perbedaan pada culture
yang merupakan contoh kebhinekaan, etnisitas dan gaya hidup yang berbeda-beda
diantara para santri. Pada awal tahun masuk pertama, perbedaan tersebut masih
terlihat. Namun dengan berjalannya waktu perbedaan kebiasaan dan budaya dari
masing-masing individu justru menjadi pemersatu dan warna yang indah dalam
mewarnai kehidupan mereka di ponpes tersebut. Karena dengan sendirinya setiap
individu akan beradaptasi dengan lingkungan. Sehingga solidaritas antar santri
terbentuk dengan sangat baik melalui proses yang berbeda-beda pada setiap
santri.
Beberapa
pertanyaan yang saya lontarkan kepada mereka, semua terjawab dengan jawaban
yang sangat memuaskan bagi saya. Mereka mengatakan bahwa dengan mondok
di ponpes Sunan Derajat ini, mereka mendapat banyak sekali manfaat yang tidak
pernah mereka pikirkan akan mereka dapat di dalam suatu pondok pesantren.
Selain mendapat ilmu agama dan pengamalannnya atau penerapannya, mereka
mendapat pengalaman berekonomi dan bermasyarakat dengan sangat baik. Dengan mondok
di ponpes tersebut mereka dapat belajar bertoleransi dengan masyarakat melalui
berbagai macam acara pondok dan melalui interaksi usaha-usaha perekonomian.
Disinilah solidaritas sosial terbuka terbentuk.
Dengan
realita hasil study excursie saya yang seperti itu, saya terheran-heran
dan bertanya-tanya. Bagaimana bisa negara Indonesia masih memiliki banyak problem
terkait dengan perbedaan agama, kebhinekaan, etnisitas, gaya hidup dan
solidaritas sosial terbuka yang ada di masyarakat Indonesia?. Mudah sebenarnya.
Dengan meniru kebiasaan baik di desa Balun (desa Pancasila) serta Pondok
Pesantren Sunan Derajat (Pondok Pesantren Entrepreneur), maka semua masalah
terkait hal tersebut akan terselesaikan dengan baik. Namun, perlu kita sadari
juga bahwa sifat dan watak setiap masyarakat di daerah satu dengan yang lain
juga tidak sama. Tetapi dengan mengambil aspek positif dari desa Balun dan
Pondok Pesantren Sunan Derajat tersebut dan diterapkan pada setiap daerah
tetapi pastinya dengan metode yang berbeda yang sesuai dengan karakter daerah
masing-masing, maka akan tercapai tujuan negara Indonesia yang berPancasila dan
berekonomi maju.
SIMPULAN DAN SARAN :
Kesimpulan yang dapat saya ambil dari hasil study excursie
selama dua hari adalah bahwa perlunya kesadaran pada diri masing-masing
individu dalam masyarakat Indonesia bahwa Indonesia adalah negara Pancasila dan
bhineka. Sehingga sudah seharusnya pada diri setiap individu masyarakat
menjadikan perbedaan-perbedaan menjadi sebuah pemersatu bangsa yang efektif dan
indah. Seperti semboyan bangsa Indonesia “Bhineka Tunggal Ika”, berbeda-beda
tetapi tetap satu jua.
DAFTAR PUSTAKA :
Adib,Mohammad,2012.
Dialog Peradaban Lintas Agama Dan Budaya :
Kebhinekaan, Etnisitas, Gaya Hidup, Dan Solidaritas Sosial Terbuka. Surabaya.


0 komentar:
Posting Komentar